Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Low Risk Artinya: Pengertian dan Penerapannya dalam Investasi

Ketika belajar investasi, kamu pasti sering mendengar istilah low risk atau risiko rendah. Biasanya, istilah ini muncul saat kita membahas tipe investor pemula, strategi investasi jangka panjang, atau ketika seseorang ingin bermain aman tanpa stress lihat grafik merah tiap hari. Tapi, sebenarnya low risk artinya apa sih? Kenapa istilah ini penting banget dalam dunia keuangan?

Di artikel ini, kita bakal bahas pengertian low risk, ciri-cirinya, contoh instrumen investasi yang low risk, sampai cara menerapkannya biar tetap cuan. Semua dibahas santai tapi tetap informatif dan SEO friendly.


Apa Itu Low Risk?

Secara sederhana, low risk artinya investasi dengan tingkat risiko yang rendah. Artinya, peluang kamu kehilangan modal itu kecil, meskipun peluang untungnya juga biasanya tidak sebesar instrumen high risk.

Dalam dunia investasi, risiko dan keuntungan itu ibarat pasangan yang nggak bisa dipisahkan. Semakin kecil risikonya, makin kecil potensi return-nya. Sebaliknya, makin besar risiko, makin besar peluang return (tapi juga makin besar potensi rugi).

Jadi, kalau kamu tipe orang yang:

  • nggak mau pusing lihat grafik naik-turun,
  • lebih suka stabil dan aman,
  • atau investor jangka panjang yang fokus ke kestabilan,

maka investasi low risk adalah pilihan yang cocok.


Kenapa Istilah Low Risk Penting dalam Investasi?

Buat pemula, memahami konsep risiko itu krusial. Banyak orang masuk dunia investasi karena lihat orang lain posting cuan besar tanpa tahu bahwa cuan itu datang dari instrumen yang berisiko tinggi.

Berbeda dengan itu, instrumen low risk:

  • lebih stabil,
  • pergerakannya nggak ekstrim,
  • cocok buat jaga-jaga darurat,
  • dan cocok buat tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan atau dana pensiun.

Jadi, konsep low risk penting supaya kamu bisa nyusun portofolio yang sehat, terukur, dan nggak asal ikut-ikutan.


Ciri-Ciri Investasi Low Risk

Supaya lebih paham, berikut ciri-ciri utama dari investasi yang termasuk kategori risiko rendah:

1. Nilai Aset Stabil

Harga atau nilai investasinya cenderung tidak fluktuatif. Nggak dramatis seperti saham gorengan atau kripto.

2. Keuntungan Tidak Terlalu Tinggi

Return yang ditawarkan biasanya lebih kecil. Tapi tentu saja sebanding dengan keamanan yang diberikan.

3. Likuiditas Tinggi

Banyak instrumen low risk yang mudah dicairkan kapan saja.

4. Cocok untuk Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Karena nilai aset stabil, instrumen ini bisa dipakai untuk tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.

5. Cocok untuk Tipe Investor Konservatif

Tipe investor yang mengutamakan keamanan modal daripada mengejar keuntungan besar.


Contoh Instrumen Investasi Low Risk

Buat kamu yang pengen mulai investasi low risk, berikut beberapa pilihan instrumen yang paling umum dan direkomendasikan:


1. Deposito Bank

Deposito adalah salah satu instrumen low risk paling populer di Indonesia. Nilai uang kamu aman, tenornya jelas, dan bunganya tetap.

Kelebihan:

  • dijamin LPS (hingga batas tertentu),
  • return stabil,
  • risiko rendah.

Kekurangan:

  • tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo tanpa penalti,
  • return kecil.

2. Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)

Instrumen ini dikelola oleh manajer investasi dan berisi produk pasar uang seperti deposito, obligasi jangka pendek, dan surat berharga lainnya.

Kelebihan:

  • likuid, bisa dicairkan kapan saja,
  • return lebih tinggi dari tabungan,
  • sangat cocok untuk pemula.

Kekurangan:

  • meski low risk, tetap ada kemungkinan nilai turun—meskipun kecil.

3. Obligasi Pemerintah

Contohnya: SBR, ORI, atau Sukuk Ritel. Ini adalah instrumen low risk karena pemerintah menjamin pembayaran pokok dan bunga.

Kelebihan:

  • return stabil,
  • sangat aman,
  • cocok untuk jangka panjang.

Kekurangan:

  • ada masa lock-in,
  • return tetap (tidak fleksibel mengikuti kenaikan pasar yang besar).

4. Tabungan Berjangka

Produk perbankan yang biasa dipakai untuk tujuan tertentu seperti tabungan haji, pendidikan, atau rencana masa depan lainnya.

Kelebihan:

  • risiko rendah,
  • aman,
  • cocok untuk pemula yang disiplin menabung.

5. Emas

Meskipun harga emas bisa naik turun, fluktuasinya jauh lebih stabil dibanding saham atau kripto, sehingga dianggap low risk untuk jangka panjang.

Kelebihan:

  • cocok sebagai pelindung nilai,
  • tahan inflasi,
  • likuid.

Kekurangan:

  • butuh waktu lama untuk naik signifikan,
  • ada biaya penyimpanan jika beli emas fisik.

Apakah Low Risk Selalu Lebih Baik?

Tidak selalu. Low risk bagus untuk keamanan modal, tapi tidak ideal untuk kamu yang mengejar return besar dalam waktu cepat.

Semuanya kembali ke tujuan finansial kamu.

Low Risk cocok jika:

  • kamu baru mulai investasi,
  • ingin simpan dana darurat,
  • tidak suka risiko tinggi,
  • punya tujuan jangka panjang stabil.

Tidak cocok jika:

  • kamu ingin keuntungan cepat,
  • siap ambil risiko tinggi,
  • mengejar pendapatan besar dalam jangka pendek.

Cara Menerapkan Strategi Low Risk dalam Investasi

Kalau kamu ingin membangun portofolio yang fokus pada risiko rendah, berikut beberapa cara mudah yang bisa dilakukan:


1. Tentukan Tujuan Keuangan

Tujuan menentukan instrumen. Contoh:

  • Dana darurat → RDPU atau tabungan.
  • Dana pensiun → Obligasi pemerintah.
  • Rencana 1–3 tahun → Deposito atau RDPU.

2. Diversifikasi Aset

Meskipun fokus di low risk, tetap perlu sebar portofolio. Misalnya:

  • 40% Reksa Dana Pasar Uang
  • 30% Obligasi Pemerintah
  • 20% Emas
  • 10% Deposito

Diversifikasi ini berguna untuk menjaga stabilitas.


3. Konsisten Investasi (DCA)

Pakai metode Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu investasi rutin tiap bulan. Metode ini bikin kamu tidak usah pusing dengan naik-turunnya harga.


Apapun pilihanmu—reksa dana, obligasi, atau deposito—pastikan semuanya diawasi oleh OJK atau lembaga resmi lainnya.


5. Hindari FOMO

Banyak pemula gagal bukan karena produk yang salah, tapi karena ikut-ikutan trend. Padahal setiap orang punya profil risiko yang berbeda.

Jika kamu tipe low risk, tetap pada jalurmu.


Kelebihan dan Kekurangan Investasi Low Risk

Biar lebih jelas, berikut rangkuman plus-minusnya:

✔️ Kelebihan:

  • lebih aman,
  • ideal untuk pemula,
  • fluktuasi rendah,
  • cocok untuk dana jangka panjang dan darurat.

Kekurangan:

  • return tidak terlalu besar,
  • kurang cocok buat kamu yang agresif,
  • beberapa instrumen butuh waktu lama untuk berkembang.

Tips Memilih Investasi Low Risk untuk Pemula

Agar tidak salah langkah, perhatikan hal-hal berikut:

  1. Pahami produknya dulu. Jangan asal ikut investasi yang katanya aman. Baca prospektus atau penjelasannya.
  2. Mulai kecil dulu. Misalnya dari Rp100 ribu.
  3. Gunakan aplikasi resmi. Pilih aplikasi yang terdaftar di OJK agar keamanannya jelas.
  4. Evaluasi secara berkala. Lihat apakah portofolio kamu sudah sesuai tujuan.
  5. Jangan fokus pada return saja. Prioritaskan keamanan modal.

Kesimpulan: Low Risk Itu Penting untuk Stabilitas Keuangan

Jadi, low risk artinya investasi berisiko rendah, cocok untuk pemula atau siapa pun yang ingin menjaga stabilitas modal tanpa drama fluktuasi besar. Meskipun return-nya tidak sebesar investasi high risk, low risk tetap jadi pilihan terbaik untuk tujuan jangka panjang dan pengelolaan keuangan yang aman.

Dengan memahami konsep ini, kamu bisa menyusun strategi investasi yang sesuai profil risiko dan tujuan keuangan kamu sendiri.

Posting Komentar untuk "Low Risk Artinya: Pengertian dan Penerapannya dalam Investasi"